Aksara Sunda Bakal Hiasi Jalan dan Gedung Pemerintahan di Cimahi

Aksara Sunda Bakal Hiasi Jalan dan Gedung Pemerintahan di Cimahi

Cimahi,Jum’at(12/09/2026) Pemerintah Kota Cimahi mendorong penggunaan Aksara Sunda pada penamaan sejumlah jalan dan gedung pemerintahan. Rencana tersebut menjadi langkah nyata untuk memperkenalkan kembali aksara daerah kepada masyarakat sekaligus memperkuat pelestarian budaya Sunda di ruang publik.
Penggunaan Aksara Sunda diharapkan tidak hanya menjadi simbol, tetapi juga bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat, terutama generasi muda. Nantinya, masyarakat dapat mengenal dan membaca aksara daerah ketika berada di jalan maupun gedung pemerintahan.

Gagasan tersebut disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Cimahi, Dani Bastian, saat menghadiri Dialog Budaya dalam rangka memperingati Hari Aksara Sedunia, Jumat (11/9/2026).

“Salah satu gagasan yang tengah didorong yakni penggunaan Aksara Sunda untuk penamaan sejumlah jalan maupun gedung pemerintahan. Langkah tersebut diharapkan bukan hanya menjadi simbol, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mengenalkan kembali aksara daerah kepada masyarakat, khususnya generasi muda,” ujar Dani.
Aksara Sunda Masuk Ruang Publik

Dani mengatakan, Disbudparpora memiliki posisi sebagai leading sector dalam upaya memajukan kebudayaan sekaligus menjaga keberadaan bahasa dan aksara daerah di Kota Cimahi.
Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup dilakukan melalui kegiatan seremonial. Pemerintah perlu menghadirkan kebudayaan dalam ruang-ruang yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat.

Penggunaan Aksara Sunda pada nama jalan dan gedung pemerintahan dapat menjadi media edukasi informal bagi generasi muda. Masyarakat tidak hanya mengenal Aksara Sunda melalui buku atau kegiatan kebudayaan, tetapi juga dapat melihat dan membacanya ketika berada di ruang publik.

Bagi pemerintah daerah, kehadiran aksara daerah pada ruang publik juga menjadi bagian dari upaya menjaga identitas budaya di tengah perkembangan kota dan perubahan zaman.
Peran Pegiat dan Tokoh Budaya

Dani menambahkan, upaya pelestarian Aksara Sunda di Cimahi tidak terlepas dari kontribusi para pegiat dan tokoh budaya lokal.
Menurutnya, komunitas dan pelaku budaya memiliki peran penting dalam menjaga agar kebudayaan daerah tetap hidup dan berkembang.

“Salah satu kontribusi nyata datang dari tokoh budaya Bang Ujang Laip yang telah menyusun dan mencetak tujuh manuskrip Aksara Sunda. Karya tersebut turut dipamerkan dalam kegiatan Dialog Budaya,” tuturnya.

Keberadaan karya tersebut menjadi salah satu contoh bahwa pelestarian budaya tidak hanya dilakukan melalui kebijakan pemerintah, tetapi juga melalui kreativitas dan inisiatif masyarakat.

Karena itu, pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan berbagai unsur, mulai dari komunitas, tokoh budaya, seniman, akademisi hingga masyarakat luas.
Jangan Berhenti di Kegiatan Seremonial

Dialog Budaya tersebut juga menjadi ruang kolaborasi antara Pemkot Cimahi dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat untuk menggali berbagai potensi serta gagasan kreatif kebudayaan yang berkembang di Kota Cimahi.

Dani menegaskan, pelestarian kebudayaan harus dilakukan secara berkelanjutan. Kegiatan budaya tidak boleh hanya ramai ketika ada momentum peringatan tertentu, kemudian berhenti setelah acara selesai.

“Harapannya kegiatan pelestarian ini tidak berhenti sampai di sini, tetapi terus berkembang melalui kolaborasi dengan berbagai pihak,” ujarnya.

Penggunaan Aksara Sunda pada sejumlah ruang publik nantinya diharapkan dapat menjadi salah satu bentuk nyata bagaimana kebudayaan tidak hanya disimpan sebagai warisan masa lalu, tetapi dihadirkan kembali dalam kehidupan masyarakat Cimahi hari ini.