Dialog Budaya Jabar 2026 di Cimahi, Dorong Pelestarian Aksara Sunda dan Penguatan Ekosistem Kebudayaan
Dialog Budaya Jabar 2026 di Cimahi, Dorong Pelestarian Aksara Sunda dan Penguatan Ekosistem Kebudayaan
Temperatur.Com
CIMAHI, DISKOMINFO — Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jawa Barat bersama Sekretariat DPRD Jawa Barat menggelar Dialog Budaya Jawa Barat Tahun 2026 di Aula Gedung B Pemerintah Kota Cimahi, Jumat (11/9/2026).
Kegiatan tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Aksara Internasional 2026 dengan mengusung tema “Rumawat Aksara Sunda Dina Raraga Miéling Poé Aksara Sadunya”. Pemerintah Kota Cimahi melalui Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga (Disbudparpora) bertindak sebagai tuan rumah.
Dialog Budaya Jawa Barat 2026 menjadi ruang komunikasi, pertukaran gagasan, sekaligus kolaborasi antara pemerintah dan para pemangku kepentingan kebudayaan untuk membahas berbagai persoalan strategis serta merumuskan langkah bersama dalam pelestarian dan pengembangan kebudayaan Jawa Barat.
Forum tersebut juga menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran bahwa aksara, bahasa, seni, tradisi, serta berbagai ekspresi budaya daerah merupakan bagian penting dari identitas masyarakat.
Di tengah perkembangan zaman dan arus modernisasi, pelestarian budaya dinilai tidak cukup dilakukan melalui kegiatan seremonial. Diperlukan langkah konkret agar kebudayaan semakin dekat dengan kehidupan masyarakat, terutama generasi muda.
Baca juga:
Cimahi Techno Park Raih Peringkat A Nasional, Bukti Keberhasilan Pemkot Cimahi Bangun Ekosistem Inovasi
Wali Kota Cimahi Ngatiyana menegaskan, kebudayaan merupakan bagian penting dari identitas masyarakat yang harus dijaga keberlangsungannya. Perkembangan zaman, menurutnya, tidak boleh membuat generasi muda kehilangan pengetahuan mengenai budaya, bahasa, aksara, maupun sejarah daerah.
Cinta terhadap budaya harus dilestarikan. Budaya kita, khususnya budaya Jawa Barat dan budaya daerah, benar-benar harus kita pertahankan dan diwariskan kepada anak-anak kita, ujar Ngatiyana.
Menurutnya, dialog budaya menjadi penting karena dapat mempertemukan berbagai gagasan dan pemikiran mengenai upaya pelestarian kebudayaan.
Pemkot Cimahi, lanjut Ngatiyana, juga mendorong pemanfaatan Aksara Sunda di ruang-ruang publik sebagai salah satu upaya memperkenalkan sekaligus membumikan kembali aksara daerah kepada masyarakat.
Pemanfaatan Aksara Sunda tidak hanya pada penunjuk jalan, tetapi dapat dikembangkan pada nama jalan, fasilitas publik, maupun bangunan milik pemerintah di Kota Cimahi.
Jadi bukan hanya sekadar penunjuk jalan, tetapi nama jalan, fasilitas dan bangunan publik juga bisa menggunakan Aksara Sunda, katanya.
Sementara itu, Kepala Disparbud Provinsi Jawa Barat Iendra Sofyan mengatakan, pengembangan kebudayaan menjadi salah satu perhatian pemerintah daerah. Salah satunya dengan mendorong tumbuhnya ekosistem penggiat Aksara Sunda di berbagai daerah, termasuk Kota Cimahi.
Menurut Iendra, Kota Cimahi memiliki potensi kebudayaan yang perlu terus digali dan dikembangkan melalui kolaborasi antara pemerintah, budayawan, seniman, komunitas, akademisi, dan masyarakat.
Iendra juga menyoroti kiprah salah satu tokoh budaya asal Cimahi, Yudistira Purnama Shakyan atau yang dikenal dengan nama Mang Ujang Lalip, dalam mengembangkan Aksara Sunda.
Dalam kegiatan tersebut diperlihatkan tujuh manuskrip yang telah dibuat dan dicetak. Karya tersebut menjadi salah satu bentuk nyata upaya mengenalkan sekaligus mengembangkan kembali Aksara Sunda kepada masyarakat.
ads content middle
Ini menjadi kesempatan bagi kita untuk menggali potensi-potensi kebudayaan yang ada di Kota Cimahi. Jangan sampai kegiatan ini hanya berhenti di sini, tetapi harus dilanjutkan dengan kolaborasi yang lebih kuat, kata Iendra.
Selain Dialog Budaya, kegiatan juga dirangkaikan dengan pengukuhan Dewan Kebudayaan Kota Cimahi (DKKC) periode 2026–2030.
DKKC diharapkan dapat menjadi mitra strategis pemerintah daerah dalam memberikan masukan, menampung aspirasi, serta mendorong pelestarian dan pengembangan seni dan budaya di Kota Cimahi.
Penguatan kebudayaan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah, akademisi, budayawan, seniman, komunitas, dan masyarakat perlu membangun kolaborasi agar kebudayaan tidak hanya dipertahankan sebagai warisan masa lalu, tetapi juga mampu berkembang dan memberikan kontribusi bagi kemajuan daerah.
Semangat tersebut sejalan dengan tagline kebudayaan Kota Cimahi, “Kreatif Warga-na, Mantap Karya-na, Maju Kota-na, Hepi Budayawan-na.
Tagline tersebut menggambarkan keterkaitan antara kreativitas warga, kualitas karya budaya, kemajuan kota, serta kesejahteraan para pelaku kebudayaan.
Dialog Budaya Jawa Barat 2026 turut dihadiri Ketua Komisi V DPRD Provinsi Jawa Barat Yomanius Untung serta jajaran Pemerintah Kota Cimahi.
Kegiatan menghadirkan tiga narasumber, yakni Siti Muntamah, S.A.P., Drs. Mamat Rachmat, M.Si., dan Yudistira Purnama Shakyan atau Mang Ujang Lalip selaku Maestro Aksara Sunda.
Sekitar 100 peserta dari unsur budayawan, seniman, pelaku budaya, akademisi, komunitas, serta pemangku kepentingan kebudayaan turut mengikuti kegiatan tersebut.
Baca juga:
Pemkot Cimahi Fokuskan Bantuan Sosial dan Pemberdayaan Ekonomi bagi Warga Rentan
Melalui Dialog Budaya Jawa Barat 2026, pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan diharapkan dapat semakin memperkuat ekosistem kebudayaan yang inklusif dan berkelanjutan.
Dengan demikian, Aksara Sunda, bahasa, seni, tradisi, dan berbagai ekspresi budaya Jawa Barat tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi tetap menjadi identitas yang hidup, berkembang, dan relevan bagi generasi masa kini maupun generasi mendatang.