Wali Kota Cimahi: Bangsa yang Besar Adalah Bangsa yang Menghargai Budayanya Sendiri
Wali Kota Cimahi: Bangsa yang Besar Adalah Bangsa yang Menghargai Budayanya Sendiri
Festival Cireundeu ke-3 resmi dibuka Wali Kota Cimahi Letkol TNI (Purn) Ngatiyana pada Sabtu (15/11/2026) siang di Kampung Adat Cireundeu. Acara budaya tahunan tersebut kembali menjadi ruang penting bagi masyarakat adat untuk menampilkan kekayaan tradisi sekaligus memperkuat identitas budaya lokal.
Hadir dalam kegiatan ini Wakil Wali Kota Cimahi Adhitia Yudhistira, Ketua Adat Cireundeu Abah Widi, Kepala Disbudparpora Cimahi Danis Bastian, Ketua DPRD Provinsi Jawa Barat Buki Wibawa Daya Guna, Ketua DPRD Kota Cimahi Wahyu Didyatmoko, perwakilan UPI, perwakilan Kementerian DIKTI, perbankan, jajaran Forkopimda, para lurah, masyarakat adat Cireundeu, serta puluhan awak media. Sejak pukul 09.20 WIB, suasana kampung adat telah ramai oleh penyambutan tari Sisingaan dari Subang yang menandu Wali Kota dan Wakil Wali Kota menuju gerbang Kampung Adat. Rombongan juga disambut Parade Jampana dari 15 kelurahan yang membawa hasil bumi dan penganan khas wilayah masing-masing. Setibanya di pintu masuk, rombongan disambut prosesi adat pemecahan kendi berisi air sebagai simbol penyatuan niat dan harapan bersama. Setelah itu, Wali Kota dan tamu undangan disajikan pertunjukan kesenian anak-anak Kampung Adat Cireundeu, mulai dari tarian tradisional, angklung, hingga permainan oray-orayan yang turut diikuti para pejabat. Usai menikmati suguhan kesenian, rombongan memasuki Bale Saresehan untuk beristirahat sejenak sambil mencicipi makanan berbahan dasar singkong, ciri khas kuliner masyarakat adat Cireundeu. Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi sambutan.
Kepala Disbudparpora Cimahi Danis Bastian membuka rangkaian sambutan dengan mengapresiasi pelaksanaan festival dan kerja sama masyarakat adat. Danis menilai kegiatan ini penting untuk menjaga keberlanjutan budaya lokal. “Acara seperti ini menjadi ruang bagi generasi muda untuk tetap menjaga dan melestarikan warisan leluhur,” ujarnya. Ia juga menegaskan bahwa kegiatan ini didukung APBD untuk mendorong potensi wisata Kampung Cireundeu agar semakin berkembang.
Perwakilan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Rina Avianti, pada sambutan berikutnya menyampaikan terima kasih atas kemitraan yang telah terjalin dengan masyarakat adat dan Pemerintah Kota Cimahi. “Kami dua kali menggelar Festival Cireundeu di UPI. Kami berharap kolaborasi seperti ini terus berlanjut sebagai upaya pelestarian budaya,” katanya.
Ketua Adat Cireundeu, Abah Widi, turut menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya festival tersebut. Ia menjelaskan bahwa ritual pemecahan kendi memiliki makna mendalam. “Pemecahan kendi adalah simbol bahwa seluruh unsur harus bersatu memecahkan permasalahan. Kami warga adat akan selalu siap bekerja sama dengan pemerintah,” ungkapnya.
Sebelum memasuki sambutan terakhir, panitia mengumumkan pemenang Parade Jampana. Dari 15 kelurahan peserta, Kelurahan Cipageran keluar sebagai juara dan menerima penghargaan yang langsung diserahkan Wali Kota Cimahi didampingi Ketua DPRD Provinsi Jabar.
Dalam sambutan penutupnya, Wali Kota Cimahi Letkol TNI (Purn) Ngatiyana menegaskan bahwa budaya adalah akar kekuatan bangsa. “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai budayanya sendiri. Momen ini penting untuk mendidik generasi muda agar tidak kehilangan identitasnya,” ujar Ngatiyana.
Ia juga mengungkapkan rencana pemerintah membangun homestay di kawasan Kampung Adat Cireundeu sebagai upaya meningkatkan kunjungan wisatawan dan kesejahteraan masyarakat. “Dengan adanya homestay, wisatawan bisa tinggal lebih lama dan aktivitas ekonomi masyarakat akan meningkat,” ujarnya.
Sebelum menutup acara, Ngatiyana menyerahkan satu unit motor listrik kepada Abah Widi sebagai dukungan bagi aktivitas Ketua Adat dalam menjaga dan mengembangkan wilayah adat Cireundeu.**