Darurat Disalahgunakan: 112 Cimahi Dikepung Ribuan Panggilan Iseng
Darurat Disalahgunakan: 112 Cimahi Dikepung Ribuan Panggilan Iseng
Gentra Jabar, KOTA CIMAHI – Layanan darurat 112 Cimahi Campernik kini berada di titik yang mengkhawatirkan. Alih-alih difungsikan sebagai jalur cepat penyelamatan, layanan ini justru terus diganggu oleh gelombang panggilan iseng yang jumlahnya kian tak terkendali.
Sepanjang tahun 2025, lebih dari 3.500 panggilan tidak bertanggung jawab tercatat masuk ke sistem. Angka ini bukan sekadar data, melainkan sinyal keras bahwa penyalahgunaan layanan darurat telah menjadi persoalan serius yang tak bisa lagi ditoleransi.
Penelaah Teknis Kebijakan Bidang IKPS Diskominfo Cimahi, Adhy Ramadhyan, menegaskan bahwa kondisi ini sudah melewati batas kewajaran. Dalam keterangannya di Call Center 112, Gedung A Pemerintah Kota Cimahi, ia menyebut panggilan prank sebagai gangguan nyata terhadap efektivitas layanan.
“Jumlahnya ribuan. Ini bukan hal kecil, karena setiap panggilan palsu berpotensi menghambat penanganan kejadian darurat yang sesungguhnya,” tegasnya.
Kemudahan akses layanan 112 menjadi salah satu pemicu utama. Fitur panggilan darurat yang bisa diakses tanpa membuka kunci ponsel, yang semestinya menjadi solusi dalam kondisi kritis, justru berubah menjadi celah penyalahgunaan. Anak-anak menjadi kelompok yang paling sering terlibat, baik karena ketidaksengajaan maupun tindakan iseng tanpa tanggung jawab.
Lebih memprihatinkan lagi, operator juga kerap menerima laporan di luar konteks darurat. Mulai dari panggilan tanpa suara hingga permintaan bantuan membuka kunci ponsel, menunjukkan rendahnya pemahaman masyarakat terhadap fungsi layanan ini.
Meskipun sistem telah dilengkapi peringatan hukum, efek jera belum terlihat. Setiap bulan, ratusan panggilan tidak penting masih terus masuk, menyita waktu dan fokus petugas.
Pemerintah Kota Cimahi pun tidak tinggal diam. Diskominfo menegaskan bahwa penyalahgunaan layanan darurat adalah tindakan serius yang dapat berdampak langsung pada keselamatan masyarakat lain.
Disiplin dalam menggunakan layanan 112 bukan sekadar imbauan, melainkan kebutuhan mendesak. Tanpa kesadaran kolektif, layanan yang seharusnya menyelamatkan nyawa justru akan lumpuh oleh ulah segelintir pihak yang tidak bertanggung jawab. (Deri)