Diskominfo Cimahi Perkuat Literasi Digital Adaptif untuk Tekan Hoaks di Era Konten Cepat

Diskominfo Cimahi Perkuat Literasi Digital Adaptif untuk Tekan Hoaks di Era Konten Cepat

KOTA CIMAHI – Kepala Bidang Informasi,

Komunikasi Publik, dan Statistik Diskominfo Kota Cimahi, Andri Nurwantoro

menegaskan pentingnya strategi literasi digital yang adaptif terhadap perilaku

masyarakat modern yang lebih menyukai konten singkat, menarik, dan visual.

Menurut Andri, pendekatan literasi digital konvensional sudah tidak cukup

efektif, terutama bagi masyarakat digital yang terbiasa dengan konsumsi

informasi cepat melalui video pendek atau infografis. Konten yang mengedepankan elemen emosional, dibalut bahasa sehari-hari,

dan terkadang menyinggung kearifan lokal, dinilai jauh lebih mudah diterima

dan disebarkan secara positif. "Yang disampaikan dalam bahasa sehari-hari

(termasuk unsur budaya Sunda bila perlu) dan diakhiri call-to-action konkret

seperti jangan langsung forward, cek sumber, lapor," ujar Andri.

Selain konten yang menarik, proses verifikasi informasi menjadi fokus utama

Diskominfo Kota Cimahi. Setiap laporan hoaks yang masuk tidak langsung

diumumkan kepada publik.

Tim melakukan verifikasi berlapis, mulai dari menelusuri sumber primer hingga

konfirmasi langsung dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait.

"Keputusan kemudian dipublikasikan dan dilaporkan ke platform. Tim juga

berkoordinasi ke tingkat provinsi atau nasional bila diperlukan, seperti dengan

Jabar Saber Hoaks," jelasnya.

Andri menekankan peran Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) dan PIC PPID

sebagai perpanjangan tangan Diskominfo di lapangan. Mereka memiliki fungsi

strategis untuk mendeteksi isu lokal yang mungkin tidak terlihat melalui

pemantauan akun resmi otomatis. "Mereka mendeteksi isu lokal yang sering

tidak terlihat oleh pemantauan otomatis akun resmi,” kata dia.

Isu-isu yang biasanya pertama kali muncul di tingkat lokal meliputi bantuan

sosial, kebijakan lingkungan, hingga layanan publik.

Melalui koordinasi yang baik antara KIM, PIC PPID, dan Diskominfo, Andri

menegaskan informasi ini bisa diklarifikasi, diverifikasi, dan disebarkan kembali

secara resmi agar masyarakat mendapatkan informasi yang akurat.

Dengan strategi ini, lanjut dia, penyebaran hoaks dapat ditekan secara

signifikan. Kolaborasi konten digital yang adaptif dan jaringan KIM yang aktif

menjamin informasi resmi menjangkau masyarakat, termasuk mereka yang

jarang mengakses internet atau media sosial. "Dengan sinergi konten digital

dan jaringan KIM yang aktif, penyebaran hoaks bisa ditekan dan informasi

resmi menjangkau warga yang jarang online," tutup Andri. (Dip)