Pemkot Cimahi Menerima Pengiriman Perdana RDF TPST Santiong di Hari Bumi

Pemkot Cimahi Menerima Pengiriman Perdana RDF TPST Santiong di Hari Bumi

Peringati Hari Bumi 22 April 2024, Pemerintah Daerah Kota Cimahi melakukan serangkaian kegiatan, salah satunya pengiriman Perdana Refuse Derived Fuel (RDF) hasil pengolahan sampah di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Santiong Jl. Kolonel Masturi RW 14 Kelurahan Cipageran Kecamatan Cimahi Utara Senin (22/04) kemarin. Pengiriman Refused Derived Fuel (RDF) or Solid Jumputan Fuel (BBJP) pada PT Indocement Cimahi menjadi bagian Gerakan Orang Cimahi Pilah Sampah (GRAK OMPIMPAH)l Pemkot Cimahi. Pemberian ini merupakan hasil dari saran masyarakat untuk mengelola sampah yang diikuti langsung Pj Wali Kota Cimahi Dicky Saromi. “Pengiriman perdana RDF dan BBJP ke PT. Indocement merupakan upaya Kota Cimahi untuk mendapatkan masukan masukan terkait kriteria produk dari pengolahan sampah (RDF dan biomassa) mengenai kadar air, kadar abu, kadar kalori dan lain-lain yang dapat menjadi standar dari hasil pengolahan sampah yang dapat digunakan oleh industri,” ungkap Penjabat (Pj) Wali Kota Cimahi Dicky Saromi. Upaya ini dicanangkan setelah sebelumnya di lakukan GRAK POCERI (Gerakan Pengomposan Cimahi Camperenik).di setiap RW tahun 2024 ini. TPST Santiong dan TPST Lebaksaat. Tercatat usaha ini sudah mengurangi puluhan ton sampah secara mandiri maupun kolektif. Pemerintah Kota Cimahi berupaya untuk mengelola sampah secara mandiri salah satunya dengan upaya pemilahan dan pengolahan sampah yang telah dapat mereduksi sampah sebesar 56 ton/hari. Kemudian, dengan melibatkan unsur masyarakat, melalui gerakan GRAK OMPIMPAH (Gerakan Orang Cimahi Pilah Sampah), sejak tahun 2023, Kota Cimahi mampu mengurangi volume sampah sebesar 40 ton/hari. Lalu dengan keberadaan TPST sentiong dan Lebaksaat yang dapat mengelola sampah 50 tpd, maka sisa sampah yang dibuang ke TPA sebesar 80 ton/hari dari total volume sampah Kota Cimahi yang sebesar 226 ton per hari. “Pemerintah Kota Cimahi mencanangkan untuk dapat menuntaskan sampah termasuk di dalamnya adalah sampah plastik dengan mengurangi ketergantungan terhadap TPA sarimukti dan secara bertahap Kota Cimahi akan menuju zero to TPA di tahun 2025,” ujar Dicky Optimis. Selain penanganan sampah di hulu, Kadis Kota Lingkungan Hidup Kota Cimahi juga telah menyiapkan pengolahan sampah di TPS 3R dengan melengkapi peralatan pilah sampah dan alat pencacah plastik yang merupakan bantuan dari Provinsi Jawa Barat dan APBD Kota Cimahi. TPST 3R dapat mengelola sampah rata-rata sebesar 15 – 20 ton per hari. Upaya pengolahan sampah di hilir juga dilakukan dengan pembangunan TPST Santiong dan TPST Lebaksaat. “Saat ini TPST tersebut telah selesai pembangunan dan dalam fase comissioning test dan akan dilanjutkan pendampingan oleh Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan selama 10 bulan,” lanjut Chanifah. PJ. Gubernur Jawa Barat Bey Machmudin yang hadir untuk meninjau kegiatan ini, menyampaikan bahwa di Jawa Barat meskipun terdapat banyak TPS, tapi Kota Cimahi menjadi yang pertama terpadu dan mampu mengolah sampah menjadi RDF. “Saya berharap, ini dapat dicontoh dan jadi penyemangat bagi kabupaten dan kota lainnya. Meskipun ada emisi, tapi kan minimal sudah ada hasil, ini juga kita kaji terus emisi itu bagaimana. Yang penting sudah ada jadwal untuk maggot juga, yang penting kita harus buang sampah dari hulu ke hilir artinya sudah ada usaha,” pungkasnya