TPST Sentiong Cimahi Ditargetkan Olah 80 Ton Sampah per Hari, Kapan Beroperasi
TPST Sentiong Cimahi Ditargetkan Olah 80 Ton Sampah per Hari, Kapan Beroperasi
Pemerintah Kota Cimahi menargetkan kapasitas pengolahan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Sentiong mencapai 75–80 ton per hari. Peningkatan kapasitas ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Regional Sarimukti.
Rencana tersebut dibahas dalam audiensi Implementation Support Mission (ISM) program Improvement of Solid Waste Management to Support Regional and Metropolitan Cities (ISWMP) bersama World Bank dan tim pelaksana program di Mal Pelayanan Publik (MPP) Kota Cimahi, Jumat (23/10/2026).
Wali Kota Cimahi Ngatiyana mengatakan, keterbatasan lahan menjadi salah satu tantangan dalam pengelolaan sampah di wilayahnya. Selama ini, Cimahi masih bergantung pada TPA Regional Sarimukti untuk menampung sampah yang tidak tertangani di dalam kota.
Karena itu, Pemkot Cimahi berupaya memperkuat fasilitas pengolahan sampah agar volume sampah yang dikirim ke TPA regional bisa dikurangi.
“Cimahi mendapatkan perhatian dari World Bank melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian Dalam Negeri. Kami berharap pengelolaan sampah dapat semakin optimal sehingga sampah yang dihasilkan bisa diolah di Kota Cimahi,” ujar Ngatiyana.
Ngatiyana menjelaskan, peningkatan kapasitas TPST Sentiong dilakukan melalui penambahan mesin pengolahan sampah.
Mesin baru lainnya direncanakan terpasang dan mulai beroperasi pada awal 2027. Sementara itu, mesin yang saat ini digunakan di Sentiong direncanakan dipindahkan ke Cigugur untuk mendukung pengolahan sampah di lokasi tersebut.
Menurutnya, pengelolaan sampah di Cimahi harus bergeser dari pola yang mengandalkan pembuangan ke TPA menjadi sistem yang mengutamakan pemilahan sejak dari rumah.
Sampah yang telah dipilah kemudian dikumpulkan sesuai jenisnya untuk selanjutnya diolah di TPST. Dengan pola tersebut, penanganan sampah diharapkan lebih efektif dan kebutuhan pengangkutan ke luar daerah dapat ditekan.
Tak hanya mengandalkan mesin dan fasilitas pengolahan, Pemkot Cimahi juga memperkuat penanganan sampah dari tingkat kelurahan hingga rumah tangga.
Dalam kegiatan yang sama, Pemkot Cimahi mengukuhkan Tim Pengelola Sampah Tingkat Kelurahan. Tim tersebut bertugas memperkuat koordinasi, mendukung pendataan, serta mendorong pemilahan sampah dari sumbernya.
Upaya ini turut didukung program Sapu Jagat RT atau Sapa dan Peduli Lingkungan Bersama ASN di RT.
Sebanyak 1.728 ASN dikerahkan untuk melakukan pendataan dasar pengelolaan sampah sekaligus memberikan edukasi kepada warga secara langsung dari rumah ke rumah.
Langkah ini diharapkan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam memilah sampah sebelum dikumpulkan dan diangkut ke tempat pengolahan.
Di sisi lain, Pemkot Cimahi masih menghadapi sejumlah kebutuhan untuk mendukung operasional pengelolaan sampah, termasuk penanganan residu, kepastian pasokan sampah, pemeliharaan fasilitas, serta pemanfaatan hasil pengolahan.
Salah satu kebutuhan yang masih harus dipenuhi adalah lima unit kendaraan compactor untuk mendukung pengangkutan residu ke TPA.
Ngatiyana menegaskan, keberhasilan pengoperasian TPST tidak cukup hanya dengan membangun infrastruktur dan menyediakan mesin. Kesiapan sumber daya manusia, kelembagaan pengelola, anggaran operasional dan pemeliharaan, prosedur kerja, serta aspek keselamatan juga harus diperhatikan.
Melalui pendampingan program ISWMP, Pemkot Cimahi berharap kesiapan operasional TPST Sentiong dan Lebaksaat dapat dipercepat. Fasilitas tersebut diharapkan mampu beroperasi secara aman, efektif, dan berkelanjutan untuk memperkuat penanganan sampah di Kota Cimahi.