Warga Cipageran Cimahi Dapat Duit dari Sampah, Pandemi Covid-19 Bawa Berkah

Warga Cipageran Cimahi Dapat Duit dari Sampah, Pandemi Covid-19 Bawa Berkah

PIKIRAN RAKYAT - Pandemi Covid-19 membawa perubahan besar bagi seluruh lapisan masyarakat di berbagai aspek, termasuk bagi masyarakat di RT 4, RW 18, Kompleks Cipageran Asri, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi. Pandemi memunculkan kebiasaan baru bagi mereka yakni mengelola sampah secara mandiri hingga berbuah keuntungan secara ekonomi. Kegiatan masyarakat tersebut digagas Arief Purnomo (58). Kegiatan itu dinamai Gerakan Ekonomi Mandiri Warga RT 4 RW 18 atau Gemi 0418 Kelurahan Cipageran. "Pastinya kehidupan berubah 180 derajat. Aktivitas terbatas tidak bisa ke mana-mana, banyak orang jajan belanja online, bikin sampah numpuk. Kalau tidak kita selesaikan, mau siapa?" ujarnya. Warga Cipageran, Cimahi, terbiasa mengelola sampah secara mandiri sejak pandemi Covid-19. Dalam mengajak warga mengelola sampah, dia mengawalinya dengan ajakan budidaya lele. "Saya kerja di pabrik farmasi, latar belakang tidak ada sangkutpautnya dengan sampah. Kalau diawali bicara sampah, semua akan menolak karena bau, kotor, jijik. Makanya, saya ajak warga membuat usaha budidaya lele," ucapnya. Usaha ternak ikan lele bermodalkan dana kas RT, sekira 25 kepala keluarga ikut serta dalam gerakan ini dan bergantian memberi pakan. Kegiatan budidaya lele terus berkembang, hasil panen lele dibagikan gratis kepada warga sesuai dengan kontribusinya pada usaha tersebut. "Dengan produksi terus naik, lama-kelamaan, kita butuh pakan lele yang baik dan berkualitas. Ada ide dari warga sebagai tim ahli kami mengolah sampah organik menumpuk untuk budidaya maggot yang ternyata cocok sebagai pakan lele," tuturnya mengimbuhkan. Agar budidaya dapat berkelanjutan, beberapa pupa pun tidak dijual dan akan tumbuh menjadi lalat dewasa. Dengan begitu, ekosistem lalat tentara hitam untuk manggot dapat terjaga. Kegiatan warga tersebut terus produktif hingga mengalami peningkatan kapasitas. "Saat ini, ada 56 KK yang terlibat. Dari awal 6 ton sebulan, sekarang 20-26 ton sampah. Dari lingkungan sendiri sudah terkelola semua, kami kerjasama dengan RW lain untuk memasok sampah. Di sisi lain, bisa mengatasi sampah wilayah sendiri tidak perlu diangkut ke tempat pembuangan akhir (TPA), ikut membantu pemerintah mengurangi sampah," ucapnya. Dapat penghargaan Komunitas Gemi sering kali menjadi percontohan bagi RT di Cimahi maupun luar kota. Aktivitas warga Cipageran tersebut turut diganjar penghargaan Program Kampung Iklim (Proklim) Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI kategori Utama tahun 2022, penghargaan Raksa Prasada Gubernur Jawa Barat kategori "Perintis Lingkungan 2022", bahkan termasuk dalam nominator Kalpataru 2023 dari KLHK RI. "Kini sudah ada unit sampah, budidaya maggot, budidaya ikan lele, dan kelompok wanita tani. Pesanan maggot terus bertambah, budidaya lele sudah ada yang nampung bahkan dipasarkan di toko frozen food dengan kemasan lele siap goreng. Diawali kerja swadaya, dengan kontiunitas dan konsistensi hasilnya dirasakan semua warga," ucapnya.Mereka berkeinginan membangun minat agrowisata dan ekspor maggot kering. Untuk 2024, pihaknya menetapkan program AWAS GEN-X, atau Kawasan Pengelolaan Sampah untuk Generasi Lebih BaiX. "Kami akan memberikan asupan gizi dengan nugget lele untuk balita di posyandu dan PAUD. Serta memberikan asupan gizi ikan lele dan edukasi untuk ibu hamil agar mengkonsumsi makanan bergizi yang diharapkan bisa ikut berkontribusi menurunkan angka stunting di Kota Cimahi," tuturnya. Menurut Arief, menjelaskan tentang pengelolaan sampah kepada masyarakat bukan hal mudah. "Karakter orang Indonesia ini tidak baik terhadap sampah. Bahkan, sering saya temui orang mampu secara ekonomi malah buang sampah sembarangan dan bersikap tidak peduli. Merasa sudah bayar, jadi buang mau ke manapun terserah. Karakter itu susah dihilangkan, padahal sampahmu, sampahku, tanggung jawab kita semua," katanya.