PEMKOT CIMAHi GELAR RAKOR PEMBANGUNAN UNDERPASS GATOT SUBROTO

PEMKOT CIMAHi GELAR RAKOR PEMBANGUNAN UNDERPASS GATOT SUBROTO

Pemerintah Kota Cimahi bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan instansi vertikal terkait menggelar Rapat Koordinasi Lanjutan Persiapan Pembangunan

Underpass Jalan Gatot Subroto, Senin (19/1/2026).

Rapat berlangsung di Markas Komando Distrik Militer (Kodim) 0609/Cimahi, Jalan Gatot Subroto Nomor 248, sebagai upaya memperkuat sinergi lintas sektor dalam percepatan proyek strategis tersebut. Rapat koordinasi dihadiri Sekretaris Jenderal Perkeretaapian dan Direktur Prasarana Perkeretaapian, Vice President PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daop 2 Bandung, Direktur

Utama Pussenarmed, Direktur Utama Kodiklat TNI, Asisten Logistik Mabes TNI, Asisten Logistik Kepala Staf Angkatan Darat, Asisten Logistik Panglima TNI, Kepala KPKNL Bandung,

Kepala Bappeda Provinsi Jawa Barat, Kepala Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat, Kepala BPKAD Provinsi Jawa Barat, Wali Kota Cimahi, Sekretaris Daerah Kota Cimahi, para Asisten Daerah, serta kepala perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Kota Cimahi.


Rapat dibuka oleh Sekretaris Daerah Kota Cimahi, dilanjutkan pemaparan Wali Kota Cimahi mengenai arah kebijakan pembangunan underpass, serta paparan teknis dari Kepala Dinas


Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Cimahi dan Kepala Dinas Perhubungan Kota Cimahi.

Dalam paparannya, Wali Kota Cimahi, Ngatiyana menegaskan bahwa pembangunan Underpass Jalan Gatot Subroto merupakan bagian dari dukungan daerah terhadap program strategis nasional, khususnya pengoperasian Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB).

“Pembangunan underpass ini merupakan implementasi amanat peraturan perundang undangan di bidang transportasi guna meningkatkan keselamatan dan efisiensi sistem

transportasi perkotaan,” ungkap Wali Kota. Adapun tujuan utama pembangunan underpass tersebut meliputi peningkatan keselamatan lalu lintas dengan menghilangkan potensi kecelakaan di perlintasan sebidang, penguraian kemacetan yang kerap terjadi akibat frekuensi perjalanan kereta api termasuk kereta feeder KCJB, peningkatan efisiensi waktu tempuh yang lebih pasti, terutama untuk mendukung akses layanan kesehatan menuju Rumah Sakit Dustira, serta optimalisasi kinerja transportasi jalan dan kereta api melalui pemisahan jalur yang aman dan efisien.