Pemkot Cimahi Komitmen Lakukan Percepatan Penurunan Stunting Demi Wujudkan Generasi Emas 2045
Pemkot Cimahi Komitmen Lakukan Percepatan Penurunan Stunting Demi Wujudkan Generasi Emas 2045
Pemerintah Kota Cimahi menggelar rapat koordinasi percepatan penurunan stunting di Mal Pelayanan Publik (MPP), Jalan Aruman, Kelurahan Cibabat, Kecamatan Kota Cimahi, Kota Cimahi, Rabu (31/1/2023).
Agenda itu digelar karena Pemkot Cimahi bersama DP3AP2KB Kota Cimahi berkomitmen akan terus menurunkan angka prevalensi stunting yang saat ini sudah cukup baik agar ke depan bisa benar-benar zero stunting.
Pj Wali Kota Cimahi, Dicky Saromi, mengatakan, upaya percepatan penurunan stunting tersebut dilakukan untuk mewujudkan generasi emas pada tahun 2045. Sehingga pihaknya akan mengatasi stunting sejak dari hulu.
"Langkahnya harus sistematis dan berkolaborasi dengan semua pihak, tidak hanya dari sektor kesehata. Jadi, dari hulu mulai dari remaja putri, calon pengantin, pasangan pengantin, ibu hamil melahirkan, sampai anak usia dua tahun," ujar Dicky di MPP Cimahi, Rabu.
Menurutnya, langkah tersebut harus dilakukan untuk melakukan penanganan stunting di Kota Cimahi menuju zero stunting dan diharapkan angka prevalensi stunting di Kota Cimahi tidak sampai bertambah dengan upaya penanganan dari hulu.
"Usia 1-2 tahun bayi merupakan waktu yang efektif dalam penanganan stunting. Kalau anak sudah lebih dari 2 tahun butuh penanganan yang ekstra, bahkan kalau terindikasi stunting, diberikan makanan tambahan pun tidak akan mudah. Jadi harus dari hulu agar angkanya tidak bertambah," kata Dicky.
Berdasarkan data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM), persentase stunting Kota Cimahi saat ini sebesar 9,35 persen atau sebanyak 2.928 balita yang dalam kondisi stunting.
Sedangkan berdasarkan Survey Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022 menunjukkan prevalensi stunting Kota Cimahi sebesar 16,4 persen. Angka tersebut akan diupayakan terus ditekan supaya terus berkurang.
"Angka itu sebetulnya masih di bawah angka prevalensi Jawa Barat, bahkan di bawah nasional. Itu bisa rendah karena ada langkah-langkah yang signifikan dan berpengaruh dalam mengatasi stunting," ucapnya.
Sementara agar angka stunting tersebut tidak sampai bertambah, pihaknya telah meminta dinas terkait untuk melakukan langkah-langkah sistematis dan serius dalam penanganan stunting, baik di hulu maupun di hilir.
"Arahan saya sesuai dengan tupoksinya, mana yang nanti berkontribusi di hulu dan mana yang berkontribusi di hilir. Jadi, apa yang kita lakukan sekarang supaya semua pihak memiliki kesepahaman yang sama tentang stunting," ujar Dicky.
Selain penanganan dari hulu dan hilir, Pemkot Cimahi juga sudah membentuk Tim Pendamping Keluarga (TPK) sebanyak 1.314 orang yang bertugas untuk mendampingi keluarga yang berisiko stunting di wilayah kerjanya masing-masing.
"Dengan begitu, harapan kita Kota Cimahi ini bisa zero stunting, makanya percepatan penanganan stunting ini harus dilakukan agar tidak menambah angka baru atau kasus baru," katanya.
Dicky mengatakan, berdasarkan data yang ada, angka kasus stunting di Kota Cimahi yang di hulu sebanyak 95 persen, sedangkan di hilir hanya 5 persen, sehingga percepatan penanganan stunting harus dilakukan dari hulu hingga hilir.
"Jadi ini menjadi prioritas dan menjadi gerak langkah kita karena Indonesia sudah mencanangkan Indonesia emas 2025 dan Kota Cimahi sudah menyusun itu untuk pembangunan jangka panjangnya," ucap Dicky.
Semua upaya tersebut dilakukan karena Pemkot Cimahi akan berkomitmen untuk terus melakukan percepatan penurunan stunting Kota Cimahi, sehingga semua pihak terkait harus bekerja sama mewujudkan Kota Cimahi bebas stunting.
Program Prioritas Bentuk Tim Audit Kasus Stunting (AKS)
Satu di antara program prioritas percepatan penurunan stunting di Kota Cimahi adalah pembetukan Tim Audit Kasus Stunting (AKS) yang terdiri atas tim pakar dari Rumah Sakit Cibabat yaitu dokter spesialis anak, dokter spesialis obstetric dan ginekologi, psikolog, serta ahli gizi.
"AKS merupakan upaya identifikasi risiko dan penyebab risiko pada kelompok sasaran berbasis surveilans rutin pada kelompok sasaran yaitu calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui nifas dan bayi di bawah dua tahun," kata Dicky.
Ia mengatakan, upaya menurunkan tingkat prevalensi stunting menjadi salah satu prioritas pemerintah baik di tingkat pusat atau pun daerah. Sebab, pada tahun 2024, pemerintah menargetkan penurunan persentase stunting turun hingga 14 persen.
"Percepatan penurunan stunting jadi prioritas karena bahaya stunting bagi masa depan bangsa. Dampaknya stunting ini bukan hanya urusan kesehatan tetapi juga berdampak terhadap sosial dan ekonomi," ujarnya.
Menurutnya, anak-anak stunting akan mengalami gangguan fisik, tinggi badan, perkembangan mental, kekebalan tubuh rendah, gangguan nutrisi, munculnya penyakit-penyakit kronis yang gampang masuk ke tubuh anak.
"Akhirnya prestasi akademik anak akan rendah, serta berdampak pada produktivitas dan ekonomi dalam jangka panjang, sehingga stunting ini butuh penanganan yang serius," kata Dicky.
sumber: https://jabar.tribunnews.com/2024/01/31/pemkot-cimahi-komitmen-lakukan-percepatan-penurunan-stunting-demi-wujudkan-generasi-emas-2045