Pemkot Cimahi Melalui Program Sibesti Jaga Stabilitas Pangan Masyarakat
Pemkot Cimahi Melalui Program Sibesti Jaga Stabilitas Pangan Masyarakat
HASANAH.ID, CIMAHI – Di tengah situasi ekonomi yang fluktuatif dan harga pangan yang terus menjadi perbincangan publik, kepastian ketersediaan beras bagi warga menjadi urusan yang tak bisa ditawar.
Pemerintah Kota Cimahi melalui program Sibesti berupaya menjaga stabilitas pangan masyarakat. Di balik program ini, peran Bulog menjadi kunci utama dalam menjamin stok tetap tersedia dan harga terkendali.
Kepala Gudang Bulog Utama Cimahi Selatan, Dede Budiman, menegaskan kesiapan pihaknya dalam mendukung setiap program pemerintah, termasuk Sibesti.
“Untuk dukungan Bulog terhadap program-program pemerintah, kami siap dengan stok yang kita punya. Untuk sementara ini, stok yang ada di gudang kami cukup aman untuk wilayah Kota Cimahi dan mendukung program Sibesti ini,” ujarnya saat ditemui di gudang Bulog, Kamis (30/10/2025).
Dede menyebutkan, jumlah beras yang tersimpan di gudang Bulog saat ini mencapai sekitar 7.000 ton. Jumlah tersebut dinilai mencukupi untuk kebutuhan distribusi di wilayah Cimahi. “Kalau stok di sini, untuk saat ini yang kita kuasai di gudang sekitar 7.000 tonan,” jelasnya.
Kerja sama lintas sektor juga terus diperkuat. Menurut Dede, Bulog tak hanya bekerja dengan pemerintah daerah, tetapi juga menggandeng institusi lain untuk memperluas jangkauan dan memastikan distribusi berjalan lancar.
“Untuk kerja sama dengan komunitas sendiri, kita juga bekerja sama baik dengan TNI, Polri, dan dinas-dinas terkait. Bahkan sampai ke tingkat polsek dan paramil pun kita sudah bekerja sama dengan baik selama ini,” ungkapnya. Adapun pelaksanaan distribusi Sibesti kali ini merupakan kegiatan ke-8 yang dilakukan di wilayah Cimahi.
“Untuk Sibesti yang ke-8,” tambah Dede singkat.
Di sisi lain, Kepala Bidang Perdagangan pada Dinas Perdagangan, Koperasi, dan Perindustrian (Disdagkoperin) Kota Cimahi, Indra Bagjana, mengungkapkan bahwa distribusi beras Sibesti kali ini mencapai 6.542 kemasan, masing-masing 5 kilogram dengan harga Rp55.000 per kemasan.
“Distribusi 6.542 bag kemasan 5 kg dengan harga 55 ribu per bag,” jelasnya.
Indra menambahkan, distribusi Sibesti juga bersifat dinamis, menyesuaikan dengan kebutuhan dan pesanan masyarakat.
“Pada dasarnya kuota yang didistribusikan dinamis sesuai dengan pesanan dari masyarakat, jadi setiap penyelenggaraan bisa berbeda, bisa naik bisa turun. Tetapi secara rata-rata sekitar 30 ton per bulan,” katanya.
Ia menjelaskan, mekanisme distribusi dilakukan melalui jejaring kelurahan yang dikoordinasikan oleh Satgas Sibesti di masing-masing wilayah.
“Distribusi melalui jejaring kelurahan, yang dikoordinir oleh Satgas Sibesti masing-masing kelurahan,” ujarnya. Lebih jauh, Indra menegaskan pentingnya inovasi dan efisiensi dalam pelaksanaan Sibesti di masa mendatang. Ia menilai efisiensi anggaran tak seharusnya menjadi penghambat bagi pemerintah untuk terus memastikan akses pangan murah bagi masyarakat.
“Harapannya ke depan Sibesti terus berinovasi, terlebih dengan adanya efisiensi anggaran, maka pembukaan gerai Sibesti di masing-masing kelurahan harus segera diinisiasi. Rencananya akan bekerja sama dengan Koperasi Merah Putih,” tuturnya.
Menurut Indra, efisiensi anggaran tidak boleh dijadikan alasan untuk menurunkan kualitas pelayanan publik, terutama dalam penyediaan kebutuhan pokok masyarakat.
“Efisiensi anggaran tidak boleh menjadi hambatan untuk terus melayani masyarakat dalam hal penyediaan pangan yang dekat dengan harga terjangkau,” pungkasnya.
Program Sibesti menjadi gambaran nyata bagaimana sinergi antara pemerintah daerah dan Bulog diuji dalam menghadapi tekanan ekonomi masyarakat.
Namun di balik stok yang aman dan sistem distribusi yang tertata, terselip pertanyaan besar: mampukah inovasi yang dijanjikan menjangkau warga di titik-titik paling rawan ketahanan pangan?