Sepeda Motor Jadi Kendaraan Pertama Melintas, Jembatan Pemkot Cimahi Kembali Dibuka
Sepeda Motor Jadi Kendaraan Pertama Melintas, Jembatan Pemkot Cimahi Kembali Dibuka
CIMAHI -- Kembali, akses terbatas jembatan Jalan Raden Demang Hardjakusumah disiapkan dibuka mulai Senin 7 September 2026. Namun, hanya kendaraan roda dua yang diizinkan melintas jembatan yang menjadi akses menuju kompleks Pemkot Cimahi itu, menyusul perbaikan jembatan yang belum tuntas.
Wali Kota Cimahi Ngatiyana mengatakan, pembukaan jembatan ini sebenarnya direncanakan dilakukan pada Sabtu 5 September 2026. Tetapi, hal itu tidak dilakukan demi keselamatan bersama pengguna jalan. "Melihat situasi dan kondisi, kami belum mengizinkan karena masih ada pekerjaan yang kira-kira riskan apabila dilewati kendaraan,” ucapnya.
Jalan dan jembatan tersebut, merupakan jalur penghubung mobilitas utama warga yang melintasi kawasan perkantoran Pemkot Cimahi dari kawasan Cimahi Utara menuju Cimahi Tengah dan sebaliknya. Konstruksi jembatan diperkirakan sudah berusia 20 tahun, pada pertengahan 2025 sempat mengalami permukaan jalan yang turun sekitar 10-20 sentimeter.
Titik ambles pada jalan pendukung struktur jembatan atau plat injak antara permukaan jalan dengan jembatan sehingga perbaikan mendesak untuk dilakukan. Perbaikan jembatan menggunakan metode hydraulic dynamicstatic pile. Proses perbaikan direncanakan berlangsung selama 3 bulan, tapi dengan metode pengerjaan tersebut ditargetkan selesai lebih cepat.
Pemkot Cimahi akan membuka akses secara bertahap. Jika tidak ada kendala, kendaraan roda dua akan menjadi pengguna pertama yang diperbolehkan melintas di atas jembatan tersebut pada Senin 7 September 2026.
“Insyaallah kita buka khusus untuk sepeda motor di hari Senin. Rencana dibuka dua arah khusus untuk sepeda motor saja. Untuk mobil belum bisa karena jembatan masih ada pekerjaan lanjutan,” ungkapnya.
Walikota Cimahi, Ngatiyana meminta masyarakat pengguna jalan tidak memaksakan diri melintas sebelum akses benar-benar dinyatakan aman. Pembangunan infrastruktur membutuhkan proses dan ketelitian, sehingga percepatan pekerjaan tidak boleh mengorbankan kualitas maupun keselamatan pengguna jalan.
“Kita membangun dan memperbaiki jembatan melalui proses, perlu waktu, tetapi kualitasnya tetap terjamin. Saya harapkan kesadaran dari seluruh masyarakat," ujar Ngatiyana.
Lebih Singkat
Namun demikian, Ngatiyana memastikan percepatan pembangunan tetap dilakukan dengan dukungan teknologi dan material yang lebih baik. Metode pekerjaan yang diterapkan kini memungkinkan waktu pengerjaan menjadi lebih singkat dibandingkan standar konstruksi konvensional.
"Rencana pembangunan secara keseluruhan memang harusnya tiga bulan. Tetapi melihat situasi dan kondisi alat maupun material ini cukup berbeda dan lebih bagus sehingga pengerjaan bisa lebih cepat. Contoh, proses pengecoran untuk standar waktu normal 22 sampai 28 hari baru bisa dilewati. Proyek ini materialnya berbeda, lebih bagus, sehingga 1x24 jam sudah bisa dilewati,” imbuhnya.
Ngatiyana juga meminta kontraktor dan konsultan agar tidak bermain-main dengan mutu pekerjaan. Percepatan pembangunan harus seiring dengan kualitas konstruksi agar masa pakai jembatan dapat berusia panjang dan tidak cepat rusak dalam waktu singkat.