Kota Cimahi Jadi Laboratorium Sanitasi Perkotaan Berkelanjutan Regional
Kota Cimahi Jadi Laboratorium Sanitasi Perkotaan Berkelanjutan Regional
CIMAHI, NyaringIndonesia.com – Kota Cimahi menjadi ruang belajar bersama bagi Indonesia dan Vietnam dalam upaya memperkuat layanan sanitasi perkotaan yang berkelanjutan.
Sejumlah pejabat Pemerintah Vietnam mengunjungi Cimahi untuk melihat secara langsung bagaimana keterlibatan masyarakat mampu menjawab tantangan sanitasi di wilayah dengan keterbatasan lahan dan kepadatan penduduk yang tinggi.
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari program South–South Learning Exchange yang difasilitasi UNICEF Indonesia bersama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional dan Kementerian Pekerjaan Umum. Selama 12–15 Januari 2026, delegasi Vietnam mempelajari praktik penyediaan air minum, sanitasi, dan higiene (WASH) di Indonesia, dengan fokus pada penerapan Sanitasi Berbasis Masyarakat (SANIMAS) yang dirancang adaptif terhadap perubahan iklim.
Salah satu titik pembelajaran utama berada di RW 14, Kelurahan Baros. Di kawasan permukiman padat ini, delegasi berdialog langsung dengan warga dan pengelola fasilitas sanitasi, meninjau sistem pengelolaan air limbah domestik terpusat yang dibangun dan dikelola secara swadaya.
Rombongan dipimpin oleh Luong Van Anh, Wakil Direktur Jenderal Departemen Pengelolaan dan Konstruksi Sumber Daya Air, Kementerian Pertanian dan Lingkungan Vietnam.
Wali Kota Cimahi, Ngatiyana, menegaskan bahwa pembangunan sanitasi tidak dapat dilepaskan dari peran aktif masyarakat. Menurutnya, infrastruktur hanyalah alat, sementara keberlanjutan ditentukan oleh kesadaran warga dalam mengelola dan merawat fasilitas tersebut.
“Pendekatan sangat penting untuk meningkatkan ketahanan kota terhadap risiko kesehatan dan dampak perubahan iklim.” tegas Ngatiyana. Selasa (13/01/26).
Pengalaman RW 14 Baros menjadi contoh nyata. Di wilayah ini, dua unit sistem pengelolaan air limbah telah melayani lebih dari 150 kepala keluarga. Fasilitas yang dibangun melalui Program Citarum Harum dan Dana Alokasi Khusus tersebut kini dikelola oleh kelompok masyarakat setempat.
Kesadaran warga terhadap pentingnya sanitasi pun meningkat signifikan, ditandai dengan berhentinya praktik buang air besar sembarangan di lingkungan tersebut.
Ketua RW 14 Baros, Johny George Laurenz, mengungkapkan bahwa proses menuju perubahan tidak selalu mudah. Kekhawatiran warga terhadap potensi pencemaran air tanah sempat muncul di awal pelaksanaan program.
“Awalnya Warga cukup khawatir dengan program ini, Namun, melalui dialog yang berkelanjutan dan pengelolaan yang baik, fasilitas pengolahan air limbah justru menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga tanpa menimbulkan gangguan lingkungan.” ungkap Johny.
Selama kunjungan, delegasi Vietnam juga menggali aspek teknis dan sosial pengelolaan sanitasi, mulai dari pemilihan teknologi yang sesuai, skema pembiayaan operasional, hingga peran perempuan dalam menjaga keberlanjutan layanan.
Diskusi ini memperkaya pemahaman bersama bahwa sanitasi tidak hanya berkaitan dengan infrastruktur, tetapi juga perubahan perilaku dan tata kelola komunitas.
Perwakilan UNICEF Indonesia menilai pengalaman Kota Cimahi relevan untuk dibagikan ke negara lain dengan karakteristik serupa. Kepadatan permukiman dan kerentanan terhadap dampak perubahan iklim menjadi tantangan bersama yang dapat diatasi melalui pendekatan berbasis masyarakat dan kolaborasi lintas sektor.
Visitor: 122