Kolaborasi Antarwilayah Diperlukan untuk Atasi Banjir di Citeureup Cimahi Utara
Kolaborasi Antarwilayah Diperlukan untuk Atasi Banjir di Citeureup Cimahi Utara
JABAR EKSPRES – Hal utama dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar di Kelurahan Citeureup, Cimahi Utara adalah penanganan banjir yang kerap melanda wilayah tersebut, terutama di RW 07.
Kelurahan ini menghadapi masalah banjir akibat limpasan air yang datang dari wilayah sekitar, sehingga menjadi perhatian serius untuk dicarikan solusi.
Lurah Citeureup, Rusli Sudarmadi, menegaskan bahwa penanganan banjir tidak dapat dilakukan hanya oleh pemerintah saja, tetapi memerlukan kolaborasi semua pihak, baik pemerintah, masyarakat, dan pihak-pihak terkait lainnya.
“Pada hari ini, dua anggota dewan hadir untuk mendukung penanganan banjir di Kelurahan Citeureup,” ungkap Rusli kepada awak media, Rabu (15/1/25).
Rusli mengungkapkan bahwa sekitar empat hingga lima RW di kelurahan ini terancam banjir karena saluran air yang tidak mampu menampung limpasan air dari wilayah lain.
Menurutnya, kolaborasi antarwilayah menjadi kunci dalam menyelesaikan masalah tersebut.
“Jika tidak ada kolaborasi dalam penanganan banjir, akan sulit diatasi. Dulu ada program Jaga Kamalir, dan saya berharap Pemkot Cimahi masih memberlakukan program itu agar saluran air di dua wilayah bisa terjaga dengan baik,” tambahnya.
Selain itu, masalah sampah rumah tangga yang seringkali menyumbat saluran air menjadi faktor lain yang memperburuk kondisi banjir.
Rusli menceritakan, dalam kegiatan gotong royong membersihkan saluran air, warga sering menemukan sampah-sampah besar, seperti kasur.
“Saya terkejut saat mendapati sampah rumah tangga seperti kasur ditemukan di saluran air. Ini menunjukkan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah masih perlu ditingkatkan,” kata Rusli.
Selain itu, lanjut Rusli, ia juga menyoroti permasalahan sampah yang semakin rumit karena batas wilayah antara Kabupaten Bandung Barat (KBB) dan Kota Cimahi, yang menyebabkan pengawasan pengelolaan sampah menjadi kurang optimal.
Namun, ia memberikan apresiasi kepada warga yang sudah mulai mengelola sampah dengan lebih baik, seperti dengan mendirikan Bank Sampah Unit (BSU) di setiap RW.
“Saat ini, di Kelurahan Citeureup sudah ada BSU di 19 RW, dan inovasi di masing-masing RW berjalan baik, seperti membuat kursi dari botol plastik. Bahkan, ada RW yang telah membentuk dua BSU,” jelasnya. Meskipun sudah ada kemajuan, Rusli menambahkan bahwa masih ada beberapa kendala yang perlu diperbaiki, seperti kurangnya alat pencacah sampah plastik di masing-masing BSU dan lambatnya pengangkutan hasil pilah sampah oleh Bank Sampah Induk.
“Saya berharap pemerintah kota bisa mendorong Bank Sampah Induk untuk lebih cepat mengambil hasil pilah sampah dari BSU agar pengelolaan sampah lebih maksimal,” harapnya.
Dengan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak, Rusli berharap masalah banjir dan sampah di Kelurahan Citeureup dapat diatasi dengan lebih baik. (Mong)
Sumber: PRFMNEWS